The December Wedding Receptions

Bulan Desember ini benar-benar merupakan bulan bagiku. Dari empat weekend yang ada, tiga diantaranya semua dipenuhi dengan undangan pernikahan teman-teman yang dulunya pernah sekantor.

Minggu kedua – pertama (Albert and Deby) :  13 Dec 08

My friend is the groom. Pernah sama-sama berjuang sebagai Project Manager dan he was very great at it. Aku masih ingat usaha dia pada saat detik-detik persiapan melamar. Selama beberapa hari dia berjuang menghapalkan lirik dan nada sebuah lagu and he had also planned to have a dinner in a cruise. Semuanya itu dilakukan tepat pada hari Valentine. That is very romantic, i think. Hmm …. aku bisa membayangkan bagaimana bahagianya the future-bride saat itu.

Kebahagiaan itu semakin terpancar pada saat hari pernikahan mereka yang diadakan di Gedung Dhanapala, daerah Senen Raya. Dibutuhkan sekitar setengah jam dari Tebet untuk mencapai lokasi gedung yang ternyata cukup mudah ditemukan. Beberapa bunga ucapan selamat dari berbagai pihak menyambut di depan gedung, sayangnya ada satu bunga yang salah spelling nama the Groom.

The colour theme must be red, karena semua ornamen banyak menggunakan tone warna merah which looks elegant and I like it. I also loved the rose petal spreaded on the path. Aku pikir mawar yang digunakan adalah mawar segar, ternyata bunga plastik yang di tempel di karpet. Keren juga sih, tujuannya pasti agar mawar itu tidak berceceran di bagian karpet yang lain.

The food was also great, gak kebayang gimana caranya pihak catering memasak dengan tetap menjaga cita rasa maksimal untuk jumlah undangan yang mencapai 1200 itu. Sayangnya, mereka tidak meninggalkan kartu nama (atau mungkin aku yang tidak menemukannya), itung-itung bisa masuk daftar vendor untuk acaraku sendiri nantinya.

Minggu ketiga – kedua (Mia and Kiky) : 20 Dec 08

My friend are both the bride and the groom, but I worked most of the time with the bride when she was working as the copywriter. She is a great copywriter as far as I can remember. Flashing back to the past, aku jadi merasa punya peran yang cukup penting dalam proses awal pendekatan mereka just because I assigned her as the copywriter in an annual report project which the groom is the AE. Dan ternyata mereka adalah pasangan yang sangat tough karena sudah terbukti bisa beberapa tahun menjaga hubungan jarak jauh antara Jakarta dan Surabaya. Kalau aku pasti sudah tidak tahan berjauhan dengan pasangan seperti itu.

Selain tough, mereka juga adalah pasangan yang unik dengan karakter yang kuat dan itu tergambar pada desain undangan yang sangat ‘beda’ which I love it. Beberapa banner dengan desain yang serupa juga dipasang di tempat mereka di Aula Masjid Al-Muhajirin, daerah Pondok Kelapa. Hanya dibutuhkan kurang dari setengah jam untuk mencapai tempat , karena selain aku lewat tol jalanan juga ternyata tidak semacet yang aku bayangkan. Saking lancarnya, aku datang pada saat acara bahkan masih belum dimulai.

Jam tujuh malam, tamu-tamu sudah ramai berdatangan menunggu sang pengantin di depan aula. Beberapa orang bahkan ada yang tidak mendapatkan tempat duduk. Ruangan memang dibagi menjadi dua bagian : tempat duduk di bagian depan atau luar aula yang sudah ditutup dengan tenda, dan bagian dalam untuk ‘panggung’ pengantin dan catering.

Akhirnya sang pengantin datang sekitar jam setengah delapan dengan diiringi gamelan jawa dan MC dalam bahasa jawa krama inggil yang aku gak tau artinya apa. The bride looks great dengan riasan Jawa dan kebaya emas berekor yang tampak sangat anggun. I love her kebaya. Looks very elegant.

Setelah mengucapkan selamat, saatnya mencicipi makanan. Aku sangat penasaran dengan rasa masakan catering ini karena promosi sang bride dari awal persiapan mereka. Well, the Zuppa Soup tasted good (meskipun tampak tidak ‘cute’ karena bagian atasnya gosong).

Minggu keempat – ketiga (Febru and Ajeng) : 28 Dec 08

My friend is the groom. Seorang flasher dan teman seperjuangan dalam menyelesaikan project-project CD Interaktif. Sering berantem dalam hal kerjaan tetapi tetep berteman baik di luar jam kerja. Datang ke ketiga ini benar-benar dilalui dengan penuh perjuangan karena lokasinya sangat amat jauh dari Tebet, yaitu di rumah the bride yang ada di daerah Cimone. Untungnya aku berangkat bersama-sama dengan teman-teman sekostan, sehingga bisa patungan membayar taxi pulang pergi yang menghabiskan hampir 300 ribu itu *sigh* Belum lagi perjuangan mencari rumah yang ternyata cukup nyempil, sempat ada insiden ‘jemuran’ saat kami berusaha memasuki gang-gang sempit menuju ke perumahan. Believe it or not, kami hampir tidak bisa datang ke hanya karena seorang ibu yang tidak mengijinkan kami menggeser jemurannya agar taxi dapat melalui gang sempit itu.

We just spent not more than an hour there, hanya memberikan ucapan selamat pada sang pengantin, makan dan berfoto-foto seperlunya dan cepat pulang karena supir taxi yang menunggu di depan tempat . Aku tidak berani mengambil resiko untuk mencari taxi dengan high-heel ku in the middle of nowhere like that.

Anyway, congratulation for all of the couples.
Hope you have a wonderful journey through your new step of life and God blessed always.

Recent Entries

4 Responses to “The December Wedding Receptions”

  1. fahmi! Says:

    wah, akhire mia + kiky jadi merit juga yah setelah sekian lama digojlok orang banyak, hahahaaa… moga2 mereka bahagia dg hidup barunya.

    selamat juga pd febru + istrinya. konco ngeflash walopun belom pernah secara langsung kerja sama karena beda lokasi. moga2 bahagia pisan.

    yg pasangan pertama aku ndak kenal. tak kiro deby emak deblong, hehe :D

  2. Fenty Says:

    ah kalian dan teman2 kalian … hahahaha

    jadi mbak ? kapan nyusul ?? *pertanyaan basi* hahahahaha

  3. pinkparis Says:

    @fahmi! : pasangan pertama itu temen pas di kantorku sekarang mas :-) bukan sammies

    @Fenty : Anda benar, itu adalah pertanyaan basi. hehehehehe …..

  4. Florist Jakarta Says:

    Seru ya, banyak undangan wedding

Leave a Reply