How worthed is your shoes …

Second , seperti biasanya aku pergi ke Namira untuk menunaikan shalat . Semua berjalan normal sampai pada saat aku mengambil sandal untuk kembali berjalan pulang. Sebelum berangkat aku masih sempat bercanda dengan adikku kalau sandal yang aku pakai ini memang sudah sangat jelek dan pastinya tidak ada orang yang akan mengambilnya (literally jeleknya, karena bantalan atasnya sudah mengelupas dan sandal itu sudah berbunyi ‘ngik, ngik, ngik’ kalau kena air).

Dan ternyata …
Memang sih tidak ada yang mengambilnya, tetapi pada saat aku memakainya aku terpeleset karena memberikan jalan kepada seorang Bapak dan membuat sandal bagian kiri nya menjadi rusak. Nah lho, padahal jarak antara dan kostanku lumayan jauh.

Pada awalnya, aku sempat mencoba memakai bagian kiri dari sandalku itu dan berjalan dengan menyeretnya, Tetapi tidak berhasil, karena aku malah tersandung-sandung. In short, aku memutuskan untuk ‘nyeker’ saja deh. Sandal kiri itu aku buang di tumpukan sampah di pinggir jalan dan aku berjalan pulang hanya dengan satu sandal di kaki kananku. Jadinya aku malam itu berjalan menyusuri jalanan pulang dengan kaki kiri merasakan hangatnya aspal jalan raya, sakitnya terkena kerikil kecil, dan kotornya jalanan setapak.

Hal ini membuat aku berpikir lebih dalam, ternyata begini rasanya para pemulung-pemulung itu berjalan kaki tanpa alas kaki. Membuat aku bersyukur karena alasan kecil, yaitu the fact kalau aku mempunyai beberapa pasang dan sandal yang dapat melindungi kakiku.

Sekali lagi aku diingatkan bahwa begitu banyak hal yang bisa aku syukuri, bahkan sebuah syukur karena alasan kecil : because i have a !

Recent Entries

2 Responses to “How worthed is your shoes …”

  1. nothing Says:

    cerita paling bagus yang saya baca hari ini..
    bersyukur bersyukur dan bersyukur…
    salam kenal…

  2. Risna Says:

    hi nothing, thanks for the complement. salam kenal juga :-)

Leave a Reply